Ada beberapa situs budaya Kebumen yang masuk dalam kawasan Geopark Karangsambung, salah satu nya adalah tari Cepetan
CEPETAN
A. Pengertian Tari Cepetan
Tari Cepetan Alas merupakan salah satu tarian tradisional di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tarian ini sangat unik karena menampilkan sendratari dengan seluruh pemainnya dengan menggunakan topeng karakter. Selain itu, tarian ini juga diisi dengan adegan kesurupan serta atraksi-atraksi ekstrem.
Cepetan Alas berasal dari kata cepet dan alas. Kata cepet dalam bahasa Jawa berarti salah satu jenis makhluk halus di Jawa. Dan kata alas berarti hutan (pesona-indonesia.info)
B. Sejarah Kemunculan Tari Cepetan
Ada beberapa pendapat mengenai asal usul seni Cepetan. Pendapat pertama dikemukakan oleh Ravie Ananda. Dalam artikelnya, Ravie mengatakan bahwa seni Cepetan bermula di tahun 40-an berkembang di wilayah Karanggayam dan berkaitan dengan sebuah peristiwa pembukaan hutan yang bernama Curug Bandung yang angker sehingga menimbulkan kemarahan berbagai mahluk gaib baik itu cepet, brekasakan, banaspati, raksasa dan lain-lain. Setelah sesepuh desa dan warga masyarakat melakukan laku prihatin mereka dapat mengatasi gangguan mahluk-mahluk jahat tersebut sehingga hutan tersebut dapat ditinggali oleh warga dan menghasilkan kemakmuran dan ketentraman.
Sementara pendapat berbeda dikemukakan Pekik Sat Siswonirmolo selaku penggiat seni Cepetan dan Ketua 1 Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen. Dalam wawancara kebudayaan yang penulis lakukan tanggal 23 Oktober 2014 diperoleh keterangan bahwa Cepetan berkembang di wilayah utara Kebumen khususnya Karanggayam sejak Abad XIX di kawasan onderneming (perkebunan luas yang dikuasai Hindia Belanda). Sebagai bentuk perlawanan non fisik, rakyat di Karanggayam membuat topeng terbuat dari kayu pule yang mudah dibentuk. Topeng tersebut dibentuk menjadi sosok yang menakutkan dengan disertai ijug sebagai rambut. Mulanya topeng-topeng tersebut dipergunakan untuk menakut-nakuti pemilik onderneming sehingga mereka tidak kerasan berada di sana dan menyebutnya sebagai wilayah angker. Diharapkan dengan rasa takut tersebut mereka meninggalkan wilayah onderneming tersebut (lihat: )[7]. Pembuatan topeng sendiri bukan sekedar mengukir namun melibatkan ritual tertentu dan jenis kayu tertentu di wilayah tertentu yang diyakini memiliki kekuatan magis.
Menurut Bapak Pekik, peristiwa pembukaan hutan yang kerap dihubungkan dengan kemunculan seni Cepetan hanyalah sisipan pada era selanjutnya demi untuk memenuhi alur dan latar belakang sebuah tarian yang dipentaskan. Sejak awalnya, Cepetan sendiri tidak ada hubungannya dengan pembukaan hutan melainkan bentuk perlawanan non fisik masyarakat untuk menakut-nakuti pegawai onderneming (historyandlegacy-kebumen.blogspot.com, 2014)
Keberadaan kesenian Cepetan sekarang sudah jarang yang mengembangkan. Pada masa dulu, kesenian cepetan hanya tampil pada waktu peringatan HUT RI, akan tetapi sekarang kesenian cepetan dapat tampil setiap saat jika ada yang menghendaki. Bahkan sudah dapat tampil pada acara keluarga sebagai hiburan (Tanggapan) (sriharini.gurusiana.id)
Salah satu pelestari kesenian tradisional cepetan yaitu paguyuban “Cinta Karya Budaya” di desa Karanggayam, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen yang merupakan paguyuban turun-temurun sejak pertama kali kesenian cepetan diciptakan oleh Lamijan pada tahun 1943 dan juga sekaligus pendiri paguyuban kesenian cepetan yang bernama Cinta Karya Budaya (digilib.uns.ac.id)

